24 Agustus: Kelahiran Mohammad Yamin Dan Sumbangsih Pemikirannya

FOTO: merdeka.com/indolinear.com
Selasa, 28 September 2021
loading...

Indolinear.com, Jakarta – Nama Mohammad Yaminsudah tidak asing tertulis dalam buku teks pelajaran sejarah di sekolah terutama pada bab penyusunan dasar negara yakni Pancasila. Mohammad Yamin inilah yang menjadi salah satu perumus Piagam Jakarta.

Tanggal 24 Agustus adalah hari lahir pahlawan Indonesia tersebut. Dengan mengetahui perihal Mohammad Yamin sebagai pribadi, kita juga turut bisa meneladaninya sekaligus mengingat sejarah penting bangsa sendiri.

Mohammad Yamin ternyata juga merupakan seorang budayawan, dan aktivis hukum terkenal di Indonesia. Berikut dilansir dari Merdeka.com (26/09/2021) perjalanan hidup singkat Mohammad Yamin beserta sumbangsih pemikirannya bagi Indonesia:

Kehidupan dan Latar Keluarga Mohammad Yamin

Mohammad Yamin lahir di Sawah Lunto (Sumatra), pada 24 Agustus 1903, ia merupakan putra dari Ustman Baginda Khatib dan Sa’adah yang masing-masing berasal dari Sawah Lunto dan Padang Panjang.

Ayahnya memiliki enam belas anak dari lima istri yang semuanya menjadi tokoh intelektual yang berpengaruh di Indonesia. Oleh sebab itu tak heran Mohammad Yamin sendiri memperoleh akses pendidikan yang lengkap pada masanya.

Pendidikannya dimulai ketika ia bersekolah di Hollands Indlandsche School (HIS). Ia juga mendapat pendidikan di sekolah guru yakni Normal School. M. Yamin juga mengenyam pendidikan di Sekolah Menengah Pertanian Bogor, Sekolah Dokter Hewan Bogor, AMS, hingga sekolah kehakiman (Reeht Hogeschool) Jakarta.

Gelar kesarjanaanya adalah meester in de rechten. Namun karena cepat bosan, Mohammad Yamin kerap berpindah-pindah sekolah untuk mendapatkan gelar tersebut.

Kala berkuliah di Perguruan Tinggi Hukum, Momammad Yamin sendiri sebenarnya tidak terlalu menggandrungi ilmu hukumnya, namun lebih dari itu, ia tertarik pada mata kuliah ilmu filsafat, seperti yang disadur dari syekhnurjati.ac.id. Namun hasilnya, ia menjadi pakar hukum terkemuka di Indonesia.

Mohammad Yamin sebagai Sastrawan

Mohammad Yamin juga dikenal sebagai penyair yang melahirkan puisi-puisi yang mengawali perkembangan puisi modern Indonesia. Karya-karyanya pertama kali diterbitkan di jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbicara Belanda pada tahun 1920. Karya pertama yang ditulisnya masih menggunakan Bahasa Melayu Klasik.

Mohammad Yamin adalah pembelajar Bahasa yang baik, dikutip dari badanbahasa.kemdikbud.go.id, kala mengenyam pendidikan di AMS ia menguasai tiga mata pelajaran bahasa, yakni bahasa Yunani, bahasa Latin, dan bahasa Kaei. Dalam mempelajari bahasa Yunani, Mohammad Yamin dibantu pastor-pastor di Seminari Yogya, sedangkan dalam bahasa Latin ia dibantu Prof. H. Kraemer dan Ds. Backer.

Sebagai sastrawan, gaya puisi suami dari Siti Sundari ini dikenal dengan gaya berpantun yang banyak menggunakan akhiran kata berima. Tak hanya itu, ia pun disebut-sebut sebagai orang pertama yang menggunakan bentuk soneta pada tahun 1921 sekaligus pelopor Angkatan Pujangga Baru yang berdiri pada tahun 1933. Dibesarkan dalam dunia pendidikan yang berlatar belakang Belanda, bukan berarti Yamin, sapaannya, memihak Belanda yang kala itu menduduki Indonesia. Semangat nasionalismenya tetap berkobar dan dibuktikan dalam bentuk karya sastra dan menghindari kalimat yang kebarat-baratan.

Sajak beraroma nasionalisme yang dituliskan Mohammad Yamin yakni berjudul “Tanah Air” yang terbit dalam Jong Sumatra No. 4. Tahun III, April 1920. Jejak Mohammad Yamin dalam dunia kesusastraan melahirkan Kelompok Pujangga Baru yang nantinya direspon oleh kelompok periode berikutnya.

Sumbangsih Pemikiran Mohammad Yamin Bagi Bangsa Indonesia

Seperti yang dijelaskan di awal, Mohammad Yamin adalah salah satu penyusun Piagam Jakarta dan merupakan anggota BPUPKI dan anggota panitia Sembilan. Piagam Jakarta ini merupakan cikal bakal dan merupakan dasar dari terbentuknya UUD 1945 dan Pancasila. Tercatat M. yamin juga pernah diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP).

Salah satu sumbangsih pemikiran Mohammad Yamin terkait bahasa cukup penting menjadi penentu keputusan bahasa nasional.

Mohammad Yamin dilansir dari laman lipi.go.id mengkritisi dan menolak penggunaan Bahasa Jawa sebagai bahasa nasional. Baginya bahasa adalah landasan utama dari eksistensi bangsa. Sebuah kalimat Tiada bahasa, bangsa pun hilang terdapat dalam sajaknya yang ditulis tahun 1921.

Mohammad Yamin juga kemudian menjadi pencetus Sumpah Pemuda yang mengusulkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa.

  1. Yamin meninggal pada tanggal 17 Oktober 1962. Ia wafat di Jakarta dan dimakamkan di desa Talawi, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Ia meninggal ketika ia menjabat sebagai Menteri Penerangan. M. Yamin dianugerahi gelar pahlawanan nasional pada tahun 1973 sesuai dengan SK Presiden RI No. 088/TK/1973. (Uli)