FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Rabu, 8 Juni 2022

Indolinear.com, Tel Aviv – Total 90 penumpang dan 10 awak pesawat maskapai Sabena masih menjadi sandera di Bandara Lod, Tel Aviv, Israel, pada 9 Mei 1972 silam.

Penyanderaan bermula sejak 8 Mei, di mana para korban ditahan di dalam pesawat selama lebih dari 23 jam.

Selama hampir satu hari itu, mereka menjadi sandera kelompok bersenjata yang disinyalir merupakan bagian dari kelompok milisi pro-kemerdekaan Palestina, demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (06/06/2022).

Tapi penantian para sandera akhirnya usai. Sebanyak 12 tentara Israel melancarkan aksi penyergapan para pembajak di dalam pesawat. Dan operasi penyelamatan para sandera pun dimulai.

Pesawat dibajak saat baru saja meninggalkan Bandara Wina, Austria. Dua pembajak awalnya menerobos pintu kokpit dan meminta agar pesawat diarahkan untuk mendarat di Bandara Lod — yang kini dikenal sebagai Bandara Internasional Ben Gurion.

Pembajak menuntut agar 100 tahanan Arab dibebaskan sebagai negosiasi pembebasan para sandera di pesawat.

Seperti dimuat BBC on This Day, para prajurit Israel menyusup ke dalam pesawat. Sementara kru pesawat yang sudah mengetahui kedatangan mereka, pura-pura tak sadar dan terus berupaya mengoperasikan pesawat.

Alih-alih mengaktifkan pesawat, para kru membuka pintu untuk membantu tentara Israel masuk dan agar penumpang bisa melarikan diri.

Salah satu penumpang yang selamat, Mor Weiss, dari Brooklyn, kepada The Times mengatakan, “Para prajurit membuka empat pintu, di kedua sisi sekaligus. Pelaku kemudian mulai menembakkan senjatanya secara liar.”

Baku tembak pun terjadi. Tentara Israel terus beraksi menembaki para pembajak — dua di antaranya tertembus peluru pada bagian dahi.

Saat pembajakan terjadi, Weiss mengenakan topi tengkorak. Benda itu membuatnya menjadi salah satu sandera yang menjadi sorotan pembajak.

Pilot Bersyukur Bisa Selamat

Kapten Pilot Reginald Levy mengaku pembajakan tersebut terjadi pada hari ulang tahunnya yang ke-50. Di tengah ketegangan, ia beruntung masih bisa merayakannya bersama sang istri yang kebetulan ikut dalam penerbangan.

“Kami semua beruntung masih hidup. Saya sebelumnya pernah beberapa kali melewati masa-masa sulit, tapi ini yang paling mendebarkan bagi saya,” tutur Levy.

Menteri Pertahanan Israel Moshe Dayan mengklaim, strategi pihaknya berhasil. Awalnya, mereka mengaku menyetujui pembebasan tahanan, namun itu dusta belaka. Israel kemudian memilih untuk melancarkan operasi penyerbuan.

Dikabarkan bahwa kelompok pembajak merupakan gerilyawan Palestina, Black September Organisation, yang tengah berjuang membebasakan para tahanan di penjara negeri zionis.

Lantaran 2 pembajak tewas di lokasi penyerbuan, tentara Israel menangkap 2 perempuan yang diduga terlibat pembajakan. Mereka kemudian dihukum penjara seumur hidup. (Uli)

loading...