Elon Musk, Dari Sindrom Asperger Menjadi Pengusaha Roket SpaceX

FOTO: dream.co.id/indolinear.com
Sabtu, 28 Mei 2022

Indolinear.com, Jakarta – Pria itu mengenakan baju kaos hitam dibalut jas hitam dan celana kain hitam saat tampil di acara sketsa komedi Saturday Night Live (SNL) di Stasiun Televisi NBC, Sabtu malam 8 Mei 2021. Senyumnya terlihat mengembang sejak dia tampil.

” Saya tidak selalu memiliki banyak intonasi atau variasi dalam cara saya berbicara … yang menurut saya menghasilkan komedi yang hebat,” candanya dalam monolog pembukaannya.

” Saya benar-benar membuat sejarah malam ini sebagai orang pertama dengan Asperger yang menjadi pembawa acara SNL,” kata pria itu

Komentarnya itu kontan memicu tepuk tangan meriah dari penonton studio.

” Jadi saya tidak akan banyak melakukan kontak mata dengan para pemain malam ini. Namun jangan khawatir, saya cukup pandai menjalankan sebagai manusia dalam mode emulasi,” kata pria itu seraya tersenyum yang lagi-lagi mengundang gelak tawa penonton.

” Dengar, saya tahu terkadang saya mengatakan atau memposting hal-hal aneh, tapi begitulah cara kerja otak saya,” katanya.

” Kepada siapa pun yang tersinggung, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya menciptakan kembali mobil listrik, dan saya mengirim orang ke Mars dengan pesawat roket. Apakah Anda pikir saya juga akan menjadi orang yang biasa-biasa saja dan normal?,” tanyanya seperti dikutip dari Dream.co.id (26/05/2022).

Pria yang mengaku sebagai orang yang memiliki sindrom Asperger itu adalah Elon Musk. Ia barangkali satu-satunya manusia di planet bumi ini yang bisa menjadi orang terkaya di dunia, sekaligus seorang penderita sindrom  Asperger.

Menurut National Institute of Neurological Disorders and Stroke, sindrom Asperger adalah gangguan perkembangan dari gangguan spektrum autisme (ASD).

Gejala terbesar sindrom Asperger ialah minat obsesif pada satu objek atau topik. Anak-anak dengan sindrom Asperger ingin tahu segalanya tentang topik tertentu dan tidak ingin banyak membicarakan hal lain.

Gejala lain sindrom ini bisa termasuk rutinitas yang berulang, keanehan saat berbicara dan berbahasa, perilaku yang tidak pantas secara sosial dan emosional, ketidakmampuan berinteraksi dengan teman sebaya, masalah komunikasi nonverbal, dan canggung. Anak-anak dengan sindrom Asperger sering diisolasi karena keterampilan sosial yang buruk.

Menurut Michele R. Berman, MD, di Medpage Today, tidak seperti kebanyakan anak ASD, anak-anak dengan sindrom Asperger tidak mengalami keterlambatan berbahasa sejak dini, dan sering kali memiliki kemampuan bahasa yang berkembang dengan baik dan kecerdasan normal hingga di atas rata-rata.

Banyak orang dengan sindrom Asperger memiliki minat yang intens dan sangat terfokus pada satu atau sedikit hal. Beberapa menyalurkannya ke arah karier yang sukses.

Akibat sindrom Aspenger yang Elon Musk derita, dia mengakui mengalami masa yang sulit ketika masih kecil di Afrika Selatan. Hal itu dia  ungkapkan dalam wawancara Ted Talk baru-baru ini.

Elon mengatakan bahwa ia memiliki masa kecil yang tidak bahagia dan kesepian. Dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk membaca buku daripada bermain dengan anak-anak seusianya.

” Saya tidak memiliki masa kecil yang bahagia. Jujur saja,” kata Elon Musk kepada Chris Anderson dari Ted Talk. ” Itu cukup berat.”

” Tapi saya membaca banyak buku. Perlahan-lahan saya mengerti lebih banyak dari buku-buku yang saya baca dan dari menonton banyak film. Butuh beberapa saat bagi saya untuk memahami hal-hal yang dipahami kebanyakan orang secara intuitif,” ujar Musk.

Miliarder berusia 50 tahun itu mengaku tidak menguasai bahasa sosial. Dia tidak mengerti isyarat sosial. Musk menjelaskan hal ini karena dia menderita Sindrom Asperger.

” Pengalaman setiap orang akan sedikit berbeda, tapi saya rasa bahasa  sosial saya tidak intuitif. Saya hanya sangat kutu buku dan saya tidak mengerti ini,” kata ayah dari tujuh anak ini.

” Saya kira orang lain dapat secara intuitif memahami apa yang dimaksud dengan sesuatu. Saya hanya akan cenderung untuk mengambil hal-hal yang sangat harfiah, hanya kata-kata yang diucapkan persis apa artinya. Tapi kemudian, itu ternyata salah, karena mereka tidak hanya mengatakan dengan tepat apa yang mereka maksud. Ada banyak hal lain yang dimaksudkan. Butuh beberapa saat bagi saya untuk memahaminya,” akunya.

Sindrom Asperger adalah bentuk autisme tanpa cacat intelektual atau keterlambatan bahasa. Mereka yang memilikinya biasanya mengalami kesulitan dalam hubungan dan interaksi dengan orang lain. Mereka kesulitan mengenali dan memahami emosi orang lain, baik melalui ekspresi wajah, nada suara, lelucon, ironi, gerak tubuh tertentu. Tidak seperti kebanyakan orang yang memahami hal ini secara alami, Asperger harus mempelajarinya. Dengan demikian sulit bagi mereka untuk menciptakan ikatan persahabatan atau hubungan romantis.

Gagal memahami dunia luar, Musk pun beralih ke dunia batin. Dia menemukan dunia ini, terutama dalam dunia pemrograman komputer.

” Saya merasa senang menghabiskan sepanjang malam membuat program komputer, sendirian. Saya pikir kebanyakan orang tidak senang mengetik simbol aneh ke komputer sendirian sepanjang malam,” kenangnya.

” Mereka pikir itu tidak menyenangkan, tapi saya pikir itu menyenangkan. Saya sangat suka itu. Saya hanya akan membuat program komputer sepanjang malam sendirian dan saya merasa itu cukup menyenangkan. Tapi menurut saya itu tidak normal,” terangnya.

Elon Musk lahir pada 28 Juni 1971 di Pretoria, Afrika Selatan, dari ayah Afrika Selatan dan ibu Kanada. Dia menunjukkan sejak awal bakatnya untuk bidang IT dan kewirausahaan.

Pada usia 12 tahun, dia membuat video game dan menjualnya ke majalah komputer seharga U$ 500 atau Rp 7,2 juta. Pada tahun 1988, setelah memperoleh paspor Kanada, ia meninggalkan Afrika Selatan untuk menghindari politik  apartheid melalui wajib militer dan juga untuk mencoba merebut peluang ekonomi di Amerika Serikat.

Ia kuliah di Queen’s University di Kingston, Ontario, Kanada, dan pada tahun 1992 dipindahkan ke University of Pennsylvania, Amerika Serikat. Di sini ia memperoleh gelar sarjana dalam bidang fisika dan ekonomi pada tahun 1995.

Pada usia 24 tahun, ia memasuki Stanford University untuk mengambil gelar Ph.D. dalam fisika. Tetapi dia memutuskan drop-out karena dia percaya internet memiliki lebih banyak potensi untuk mengubah masyarakat daripada bekerja di bidang fisika.

” Saya benar-benar terobsesi dengan kebenaran. Hanya terobsesi dengan kebenaran,” kata Elon Musk. ” Obsesi terhadap kebenaran adalah alasan saya mempelajari fisika, karena fisika berusaha memahami kebenaran alam semesta. Fisika, hanya kebenaran yang dapat dibuktikan dari alam semesta dan kebenaran yang memiliki kekuatan prediksi,” jelasnya.

Dia menambahkan: ” Bagi saya, fisika adalah hal yang sangat alami untuk dipelajari,” tambahnya.

” Pada dasarnya menarik untuk memahami sifat alam semesta, dan kemudian ilmu komputer atau teori informasi juga hanya memahami logika. Ada argumen bahwa teori informasi sebenarnya beroperasi pada tingkat yang lebih mendasar daripada fisika. Fisika dan informasi, sangat menarik untuk saya,” ujarnya.

Pencarian kebenaran yang muncul cukup awal ini sempat menjerumuskannya ke dalam depresi. “ Ketika saya remaja, saya cukup tertekan tentang makna hidup. Saya mencoba memahami makna hidup, membaca teks-teks agama dan membaca buku-buku tentang filsafat. Saya masuk ke filsuf Jerman, yang jelas tidak bijaksana jika Anda seorang remaja, harus saya katakan, agak gelap, jauh lebih baik dibaca sebagai orang dewasa,” kenang Elon, sendu.

Dia terutama membaca ” The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy,” sebuah waralaba fiksi ilmiah komedi yang dibuat oleh Douglas Adams, yang menceritakan kisah seorang pria yang melarikan diri ke luar angkasa dengan teman aliennya agar tidak mati di Bumi.

” Sebenarnya ini buku tentang filsafat, hanya disamarkan sebagai buku humor konyol,” kata Musk.

Pada tahun 1995, Elon mendirikan Zip2, sebuah perusahaan yang menyediakan peta dan direktori bisnis untuk surat kabar online. Pada tahun 1999, Zip2 diakuisisi oleh pembuat komputer Compaq seharga U$ 307 juta atau Rp 4,4 triliun.

Musk kemudian ikut mendirikan perusahaan layanan keuangan online, X.com, yang kemudian menjadi PayPal setelah merger dengan perusahaan perangkat lunak Confinity Inc pada tahun 2000. Paypal  kemudian dibeli eBay dua tahun kemudian senilai U$ 1,5 miliar atau Rp 21 triliun. Di sini Musk menerima U$ 175,8 juta atau Rp 2,5 triliun. Ia pun menjadi miliarder muda.

Buku fantasi ” The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy” ternyata membawa perspektif baru bagi Musk.

Harian The New York Times melaporkan Elom Musk memutuskan usaha besar berikutnya adalah perusahaan luar angkasa yang didanai swasta.

Pada tahun 2001, ia membuat konsep ” Mars Oasis” , sebuah proyek untuk mendaratkan rumah kaca eksperimental mini yang berisi benih dengan gel dehidrasi di Mars untuk menumbuhkan tanaman di Mars, ” Jadi ini akan menjadi perjalanan terjauh yang pernah dilalui kehidupan,” katanya.

Tetapi Elon menyadari, bahkan dengan anggaran luar angkasa sangat besar sekalipun, perjalanan ke Mars akan sangat mahal tanpa terobosan mendasar dalam teknologi roket. Pada Oktober 2001, ia melakukan perjalanan ke Moskow bersama Jim Cantrell dan Adeo Ressi untuk membeli misil antar benua atau ICBM Dnepr yang diperbarui, sehingga dapat mengirim muatan ke luar angkasa.

Tetapi biayanya menjadi terlalu tinggi, dan sebagai gantinya, Elon Musk memulai perusahaan penerbangan luar angkasa bernama Space Exploration Technologies Corp. atau SpaceX, yang sekarang berbasis di pinggiran kota Los Angeles, Hawthorne, California.

Dia menghabiskan sepertiga dari kekayaannya sebesar U$ 100 juta atau Rp 1,4 triliun untuk modal mendirikan SpaceX. Ada skeptisisme bahwa dia akan berhasil, yang bertahan hingga tahun-tahun pertama SpaceX.

Setelah menghabiskan 18 bulan bekerja keras, SpaceX meluncurkan pesawat pertama ke luar angkasa pada tahun 2006 dengan nama Dragon.

Elon Musk memberi nama pesawat ruang angkasa itu Dragon setelah  mendengar lagu ” Puff, the Magic Dragon,” sebuah lagu tahun 1960-an dari kelompok folk Peter, Paul dan Mary. Dia mengatakan dia memilih nama tersebut karena para kritikus percaya bahwa tujuan penerbangan luar angkasanya tidak mungkin berhasil.

Setelah beberapa percobaan yang gagal dan membuat modalnya U$ 100 juta nyaris ludes, tonggak sejarah berikutnya dan paling penting untuk SpaceX adalah pengiriman kargo ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS). Pesawat Dragon dengan roket Falcon 9, berhasil mengirimkan kargo pertamanya ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Mei 2012. Ia pun mendapatkan kontrak dari NASA yang akhirnya menyelamatkan situasi keuangan SpaceX.

Pada tahun 2012 penawaran umum perdana (IPO) SpaceX dianggap mungkin dilakukan pada akhir 2013. Tetapi, pada Juni 2013 Elon Musk menyatakan bahwa ia berencana untuk menunda IPO potensial sampai setelah ” Mars Colonial Transporter terbang secara teratur.”

Dan ini ditegaskan kembali pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa perlu waktu bertahun-tahun sebelum SpaceX menjadi perusahaan publik. Ia menyatakan bahwa ” Saya hanya tidak ingin SpaceX dikendalikan oleh beberapa ekuitas perusahaan swasta yang akan memeras susunya untuk pendapatan jangka pendek” .

Pada 30 Mei 2020, SpaceX berhasil meluncurkan dua astronot NASA, Douglas Hurley dan Robert Behnken, ke orbit dengan pesawat ruang angkasa SpaceX, Crew Dragon Demo-2. Crew Dragon Demo-2 berhasil merapat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 31 Mei 2020 dan mengembalikan para astronot dengan selamat ke Bumi pada 2 Agustus 2020.

Itu menjadikan SpaceX perusahaan swasta pertama yang berhasil mengirim astronot ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).

Tak hanya itu, Elon juga menemukan teknik untuk mengembalikan roket Falcon 9 yang sudah diluncurkan untuk kembali ke Bumi dengan selamat, dan bisa digunakan lagi. Ini membuat peluncuran roket jadi lebih murah dan efisien.

Keberhasilan ini jelas melonjakkan nilai SpaceX. Kini, nilai perusahaan SpaceX diperkirakan mencapai U$ 100 miliar atau setara dengan Rp 1.444 triliun. Sebuah prestasi luar biasa bagi seorang penderita sindrom Asperger. (Uli)

loading...