Jika Marcos Menangi Pilpres, Filipina BerpotensiMenghidupkan Kembali PLTN

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Jumat, 6 Mei 2022

Indolinear.com, Filipina – Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bataan senilai $2,2 miliar itu menjadi monumen keserakahan dan korupsi era Ferdinand Marcos dan dibiarkan terbengkalai setelah diktator itu digulingkan pada tahun 1986.

PLTN itu terletak di pantai, 18 meter di atas permukaan laut, dan dekat beberapa gunung berapi di wilayah yang sering diguncang gempa bumi. Namun, Ferdinand Marcos Jr. bersumpah untuk mempercepat adopsi tenaga nuklir jika dia terpilih dan membuka kemungkinan menghidupkan kembali usaha ayahnya yang gagal.

“Kami benar-benar harus membangun tenaga nuklir,” kata Marcos Jr. pada Maret lalu, yang bersikeras setidaknya akan mengoperasikan satu PLTN untuk memangkas tarif listrik yang terlalu tinggi di negara itu, dilansir dari Tribunnews.com (05/05/2022).

Marcos Jr. yang juga merupakan penggemar teknologi angin, matahari, dan panas bumi, mengatakan proposal Korea Selatan untuk merehabilitasi PLTN Bataan harus ditinjau kembali.

“Mari kita lihat lagi,” katanya.

Sekretaris Energi Filipina Alfonso Cusi pada sidang Senat tahun 2020 mengatakan, studi para ahli Korea Selatan menunjukkan kemungkinan membuat pembangkit 620 megawatt beroperasi kembali. Hanya saja, perlu peningkatan fasilitas yang bisa memakan waktu empat tahun dan menelan biaya $1 miliar (Rp14,5 triliun).

Butuh banyak biaya              

Berjarak 80 kilometer dari barat Manila, pabrik beton dikelilingi pagar keamanan di semenanjung yang menghadap ke Laut Cina Selatan. Filipina adalah negara yang secara geologis bergejolak dan tanahnya berada di wilayah rentan aktivitas seismik.

Seismolog mengatakan gunung berapi Natib dan Mariveles di dekat PLTN Bataan “berpotensi aktif”. Dibangun sebagai respons atas permintaan energi yang meningkat dan fluktuasi harga minyak dunia tinggi pada 1970-an, pembangkit listrik Bataan tidak pernah menghasilkan listrik satu watt pun. Namun, dibutuhkan 25 hingga 35 juta peso (Rp6,9 hingga 9,7 miliar) per tahun untuk mempertahankannya.

Peninggalan tersebut berfungsi sebagai tujuan bagi wisatawan dan pelajar, sebagai bagian dari upaya Perusahaan Tenaga Nasional milik negara untuk mendidik masyarakat tentang tenaga nuklir. Pengunjung dibawa menaiki tangga logam dan melalui lorong seperti kapal selam untuk melihat reaktor yang tidak aktif dan pipa bahan bakar yang masih terbungkus plastik.

“Museum korupsi”

Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengeluarkan perintah eksekutif pada awal tahun 2022, yang menjadikan tenaga nuklir sebagai bagian dari bauran energi yang direncanakan negara itu. Hanya saja para kritikus berpendapat bahwa sumber terbarukan, seperti angin dan matahari, lebih murah dan lebih aman untuk diproduksi di negara yang sering dilanda gempa bumi topan dan letusan gunung berapi.

“Jika ditambah dengan efek perubahan iklim, (pengoperasian Bataan) itu akan menjadi perhatian besar bagi masyarakat lokal,” kata Roland Simbulan, seorang aktivis anti nuklir.

Gagasan mengubah pembangkit listrik menjadi fasilitas batu bara atau gas alam sudah lama ditinggalkan.

Ronald Mendoza, Dekan Sekolah Pemerintahan Areneo Manila mengatakan akan lebih murah untuk membangun pabrik baru dan mengubah Bataan menjadi “museum korupsi” terbesar di Asia sebagai pengingat kesalahan masa lalu.

Kepala Preservasi dan Pemeliharaan di PLTN Bataan, Joe Manalo mengatakan, skeptis tentang pembangkit listrik itu pernah menghasilkan.

“Itu tergantung pada pemerintah dan presiden baru,” kata Manalo saat dia memandu AFP melewati lorong labirin dan ruangan.

“Melihat berarti percaya.” (Uli)