21 Februari 1965 Aktivis Afro-Amerika Malcolm X Dibunuh saat Berpidato

FOTO: tribunnews.com/indolinear.com
Minggu, 23 Februari 2020

Indolinear.com, Jakarta – Aktivis Afro Amerika Malcolm X mati ditembak pada 21 Februari 1965 di saat berpidato di Audubun Ballrom di Manhattan.

Malcolm X adalah tokoh terkemuka dalam Nation of Islam dan pembangun konsep nasionalisme kulit hitam pada awal 1960-an.

Tiga anggota Nation of Islam kemudian dipidana seumur hidup karena membunuh Malcolm X, dilansir dari Tribunnews.com (21/02/2020).

Setelah dibunuh, autobiografinya yang berjudul The Autobiography of Malcolm X menjadikannya sebagai pahlawan ideologis, khususnya di antara pemuda kulit hitam.

Karier awal

Malcolm Little atau Malcolm X lahir pada 19 Mei 1925 di Omaha, Nebraska, Amerika Serikat.

Ayahnya seorang pendeta bernama Earl Little, seorang pendeta baptis dan mantan pendukung pemimpin nasional kulit hitam awal bernama Marcus Garvey, meninggal setelah ditabrak sebuah mobil di jalan.

Dia mungkin menjadi korban pembunuhan yang dilakukan para kulit putih.

Setelah ayahnya meninggal, Keluarga Malcom X hidup dalam kemiskinan.

Malcom merupakan anak cerdas di sekolah, tetapi dia kemudian kehilangan ketertarikan pada sekolah dan mengakhiri pendidikan formalnya.

Dia kemudian pindah ke Michigan dan terlibat dalam kriminalitas pada umur belasan tahun.

Ketika dipenjara karena perampokan pada 1946-1956, dia pindah memeluk Islam dan bergabung dengan Nation of Islam.

Nation of Islam adalah gerakan orang Afrika-Amerika yang menggabungkan unsur-unsur Islam dengan nasionalisme kulit hitam.

Dia mulai berhenti merokok, berjudi, dan menolak memakan daging babi.

Untuk memberi pendidikan pada dirinya, Malcom menghabiskan jam panjangnya dengan membaca buku di perpustakaan penjara.

Malcom kemudian mengganti nama belakangnya menjadi “X”, sebuah tradisi di antara pengikut Nation of Islam yang menganggap nama keluarga mereka diberikan oleh para tuan budak.

Malcolm X sebagai aktivis

Karena cerdas dan pandai berbicara, Malcom X diangkap menjadi juru bicara Nation of Islam.

Dia memiliki sebuah nama Muslim, yakni el-Hajj Malik el-Shabazz.

Malcolm ditugaskan membangun masjid-masjid di berbagai kota, misal Detroit, Michigan dan Harlem, dan New York.

Pemuda kulit hitam ini memanfaatkan koran, radio, dan televisi untuk menyebarkan pesan-pesan Nation of Islam ke seluruh Amerika.

Kharisma, kampanye, dan keyakinannya menarik banyak orang bergabung ke Nation of Islam.

Kerumunan dan kontroversi yang mengelilingi membuat Malcolm menjadi magnet media.

Selain media, tingkah laku Malcolm juga menarik perhatian pemerintah.

Karena jumlah anggota Nation of Islam terus bertambah, agen-agen FBI menyusup ke organisasi tersebut dan mengawasinya.

Malcolm sangat mengidolakan pemimpin Nation of Islam bernama Elijah Muhammad.

Namun, kemudian kecewa padanya karena skandal yang menimpanya dengan enam wanita di dalam Nation of Islam.

Pada 1964, dia memutuskan hubungan dengan Nation of Islam dan mendirikan organisasi keagamaannya sendiri, bernama Muslim Mosque, Inc.

Setelah naik haji pada tahun yang sama, dia memiliki pandangan baru.

Mulai saat itu dia tidak hanya berkhotbah untuk orang Afrika-Amerika tetapi juga menyampaikan pesan pada semua ras manusia.

Pembunuhan

Seorang informan FBI mengungkap bahwa bahwa Malcom telah menjadi target pembunuhan.

Setelah terjadi beberapa percobaan pada dirinya, Malcolm jarang bepergian tanpa pengawal.

Pada 14 Februari 1965, rumahnya dibom, tetapi keluarganya tidak terluka.

Tujuh hari kemudian, Malcolm berpidato di Audubon Ballroom di Manhattan.

Ketika baru saja mulai berbicara, beberapa orang menyerbu panggung dan mengeluarkan tembakan beberapa kali.

Ditembak dalam jarak dekat, Malcolm dinyatakan meninggal setelah sampai di rumah sakit terdekat.

Tiga anggota Nation of Islam diadili dan dihukum seumur hidup karena membunuh sang aktivis. (Uli)

INDOLINEAR.TV