1999 NATO Mulai Lancarkan Serangan Udara ke Yugoslavia

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Minggu, 9 Juni 2019

Indolinear.com, Belgrade – Pada 24 Maret 1999, Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), memulai serangan udara terhadap Yugoslavia dengan mengebom militer Serbia di Kosovo.

Serangan itu merupakan respons atas gelombang baru pembersihan yang dilakukan pasukan Serbia terhadap etnis Albania pada 20 Maret.

Kosovo terletak di jantung Kekaisaran Serbia yang “hidup” pada Abad Pertengahan. Namun, wilayah itu berpindah tangan ke Kesultanan Utsmaniyah menyusul kekalahan Serbia dalam perang 1389.

Serbia berhasil merebut kembali kekuasaan Kosovo dari Turki pada 1913. Pada 1918, Kosovo secara resmi menjadi salah satu provinsi di Serbia. Kondisi tersebut terus berlangsung bahkan setelah Josip Broz Tito mendirikan Republik Rakyat Federal Yugoslavia pada 1945 yang terdiri dari Serbia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Slovenia, dan Makedonia. Demikian seperti dikutip dari Liputan6.com (07/06/2019).

Di bawah arahan Tito, Kosovo memperoleh otonomi pada 1963 dan status tersebut diperpanjang oleh Konstitusi 1974. Namun, Serbia tak senang dengan otonomi Kosovo, yang memungkinkan Kosovo bertindak melawan kepentingannya.

Pada 1987, Slobodan Milosevic terpilih sebagai pemimpin Partai Komunis Rusia. Ia berjanji mengembalikan kontrol Serbia atas Kosovo. Ketika Milosevic menjadi Presiden Serbia pada 1989, ia bergerak cepat untuk menekan Kosovo, menghapus otonomi wilayah itu. Pada 1990, Milosevic mengirim pasukan untuk membubarkan pemerintahan Kosovo.

Di lain sisi, nasionalisme Serbia memicu pembubaran federasi Yugoslavia pada 1991. Selang satu tahun berikutnya, Krisis Balkan berujung pada meletusnya perang sipil. Sebuah negara Yoguslavia baru yang terdiri dari Serbia dan Montenegro dibentuk, dan dengan demikian, Kosovo pun memulai empat tahun perlawanan terhadap pemerintah Serbia.

Namun pada 1996, muncul Tentara Pembebasan Kosovo (KLA). Mereka melancarkan serangan terhadap polisi Serbia yang berada di Kosovo. Serangan KLA meningkat pada 1997, menyebabkan pasukan Serbia memberikan respons serius di wilayah Drenica yang dikuasai KLA pada Februari-Maret 1998. Puluhan warga sipil tewas dan peristiwa itu memicu meningkatnya pendaftaran untuk menjadi anggota KLA.

Bulan Juli, KLA meluncurkan serangan di seluruh Kosovo, merebut kendali hampir setengah wilayah itu. Namun, akhir musim panas, Kosovo kembali dapat direbut Serbia. Pasukan Serbia mengusir ribuan etnis Albania dari rumah-rumah mereka dan dituding membantai warga sipil Kosovo.

Pada bulan Oktober, NATO mengancam Serbia dengan serangan udara. Milosevic pun setuju untuk mengizinkan puluhan ribu pengungsi kembali. Meski demikian, pertempuran terus berlanjut dan pembicaraan damai antara pihak Albania-Kosovo dan Serbia di Rambouillet, Prancis, pada Februari 1999 berakhir dengan kegagalan.

Pembicaraan damai selanjutnya juga tidak berhasil. Pasalnya, delegasi Serbia menolak kesepakatan yang menyerukan otonomi Kosovo dan penempatan pasukan NATO untuk memantau jalannya perjanjian. Selang dua hari dari perjanjian ini, tentara Serbia melancarkan serangan baru di Kosovo. Maka pada 24 Maret, NATO memulai serangan udaranya.

Selain menargetkan militer Serbia, kampanye udara NATO juga membidik bangunan pemerintah Serbia dan infrastruktur negara itu sebagai upaya untuk mengacaukan rezim Milosevic. Serangan ini mendorong banyak orang mengungsi. Sebagian dari mereka diterbangkan ke tempat yang lebih aman, semisal Amerika Serikat dan sejumlah negara anggota NATO lainnya.

Bombardir Berakhir pada 10 Juni

Pengeboman yang dilancarkan NATO berakhir pada 10 Juni, setelah Serbia menyetujui perjanjian damai yang menyerukan penarikan pasukan Serbia dari Kosovo dan menggantinya dengan pasukan penjaga perdamaian NATO.

Dengan pengecualian dua pilot Amerika Serikat yang tewas dalam misi pelatihan di Albania, tidak ada personel NATO yang kehilangan nyawa dalam operasi 78 hari itu. Meski demikian terjadi sejumlah kecelakaan, salah satunya pengeboman gagal yang menyebabkan kematian warga sipil dan anggota KLA. Insiden paling kontroversial adalah pengeboman 7 Mei terhadap Kedutaan Besar China di Beograd, yang menewaskan tiga wartawan Tiongkok dan menyebabkan krisis diplomatik dalam hubungan Amerika Serikat-Cina.

Pada 12 Juni, pasukan NATO pindah ke Kosovo dari Makedonia. Dan di hari yang sama, pasukan Rusia tiba di ibu kota Kosovo, Pristina, dan memaksa NATO menyetujui pendudukan bersama.

Meskipun ada pasukan penjaga perdamaian, pengungsi Albania yang kembali membalas dendam terhadap minoritas Serbia di Kosovo, memaksa mereka melarikan diri ke Serbia.

Di bawah pendudukan NATO, otonomi Kosovo pun dipulihkan, namun provinsi itu tetap resmi bagian dari Serbia.

Milosevic sendiri digulingkan dari kekuasaan oleh revolusi populer di Beograd pada Oktober 2000. Ia digantikan oleh Vojislav Kostunica yang populer, seorang nasionalis Serbia moderat yang berjanji akan mengintegrasikan kembali Serbia ke Eropa dan dunia setelah satu dekade isolasi.

Slobodan Milosevic meninggal di penjara di Belanda pada 11 Maret 2006, sesaat sebelum pengadilan atas kejahatan terhadap kemanusiaan dan genosida yang dituduhkan padanya berakhir. (Uli)