12 Penulis Berbakat Indonesia Yang Ikut Meramaikan London Book

FOTO: brilio.net/indolinear.com
Kamis, 8 November 2018

Indolinear.com, Jakarta – Sastra Indonesia kembali melanglang buana setelah dua belas penulis didaftarkan pada ajang London Book Fair tahun depan. Melansir laman Brilio.net (06/11/2018), nama-nama yang diumumkan pada acara Ubud Writers and Readers Festival 2018 tersebut dipilih melalui serangkaian pertimbangan yang panjang. Selain dilihat dari kualitas karya dan produktivitas penulis sendiri, banyaknya versi terjemahan dan kemampuan mereka dalam berbahasa Inggris pun menjadi nilai tambah.

Lalu siapa sajakah mereka? Berikut profil singkat kedua belas literator tanah air yang akan berangkat ke Inggris pada Maret 2019.

  1. Agustinus Wibowo

Agustinus Wibowo merupakan seorang penulis, traveler, sekaligus fotografer. Kecintaan pada ketiga hal itulah yang membuatnya merilis berbagai buku. Karya-karya nonfiksinya diangkat dari pengalamannya sendiri menjelajah negara Asia Selatan dan Asia Tengah. Buku pertamanya, Selimut Debu: Impian dan Kebanggaan dari Negeri Perang Afghanistan, menceritakan dirinya yang harus tinggal di negeri dengan perang tak berkesudahan selama tiga tahun.

Pria kelulusan Universitas Tsinghua tersebut juga pencinta bahasa. Selain fasih berbahasa Inggris dan Mandarin, ia juga menguasai Farsi, Mongol, Turki, dan Bahasa Asia lainnya. Beberapa karyanya telah dibuat dalam versi Inggris, salah satunya adalah Titik Nol (Ground Zero: When Journey Takes You Home). Hingga kini, banyak yang menyebutnya pionir dalam penulisan perjalan, terlebih karena ketajaman narasi ala memoar yang menjadi ciri khasnya.

  1. Clara Ng

Clara Ng mulai menekuni dunia penulisan lewat forum fanfiksi. Kala itu, dirinya sering membuat cerita alternatif dari berbagai manga yang dibacanya. Ia pun menerbitkan novel pertamanya, Tujuh Musim Setahun, selang beberapa tahun setelah lulus dari Ohio State University.

Clara menjadi novelis terkenal lewat karyanya yang mengusung genre fiksi remaja, terutama setelah serial khas metropop Indiana Chronicle laku di pasaran. Wanita keturunan Tionghoa-Sunda tersebut juga merilis buku anak. Novelnya banyak mengangkat tema wanita dan jati diri. Ia juga sempat menulis kisah kehidupan LGBT yang menuai pujian dari kelompok tersebut.

  1. Dewi Lestari

Dewi Lestari adalah seorang penulis kenamaan tanah air. Beberapa bukunya, seperti Perahu Kertas dan Filosofi Kopi, bahkan telah diangkat ke layar lebar. Wanita yang akrab dengan sapaan “Dee” tersebut memulai karier pertamanya sebagai penyanyi dan penulis lagu. Salah satu lagu hits-nya ialah Firasat yang dibawakan penyanyi sekaligus mantan suaminya, Marcell Siahaan.

Dari banyaknya novel lintas genre milik wanita lulusan Universitas Parahyangan tersebut, seri Supernova menjadi yang paling populer dan paling sering dikaitkan dengan namanya. Karya tersebut juga merupakan tulisan pertamanya yang terbit dalam bentuk buku. Kumpulan seri tersebut dirampungkan Dee lewat buku keenam Intelegensi Embun Pagi pada 2016 lalu.

  1. Faisal Oddang

Faisal Oddang bisa dibilang masih muda dalam kesusastraan Indonesia, baik dari segi umur maupun pengalaman. Namun, namanya melejit setelah mengalahkan penulis veteran, seperti Sapardi Djoko Darmono dan Agus Noor, dalam Cerpen Terbaik Kompas 2014 lewat buku yang berjudul Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon. Saat itu usianya baru 20 tahun.

Tak hanya penghargaan tersebut yang disabetnya, lelaki kelahiran 18 September 1994 itu juga telah memenangi ASEAN Young Writer 2014. Dirinya bahkan pernah menghadiri banyak festival nasional maupun internasional. Bakatnya dalam menulis didukung kecintaannya pada sastra dan juga pendidikan yang ditempuhnya di jurusan Sastra Indonesia, Universitas Hasanuddin.

  1. Intan Paramaditha

Keinginan Intan Paramaditha untuk menjadi penulis fiksi dimulai sejak kecil. Tak ayal hal itu jugalah yang membuatnya kini menghasilkan banyak buku. Meski mengaku tertarik bacaan menyeramkan ala Edgar Allan Poe, wanita bergelar doktoral dari New York University tersebut lebih memilih paduan isu gender dan seksualitas, budaya, serta politik dalam karya-karyanya.

Selain menjadi penulis, Intan juga berprofesi sebagai dosen bidang media and film study di Macquarie University. Walau menulis bukan aktivitas utamanya, Intan dikenal aktif dalam meramaikan kesusastraan tanah air. Bukunya yang berjudul Gentayangan bahkan pernah menyabet penghargaan Sastra Prosa Terbaik Tempo 2017. Ia juga sempat menerbitkan buku kolaborasi Kumpulan Budak Setan dengan Eka Kurniawan dan suaminya, Ugoran Prasad. Buku tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada Abdullah Harahap sebagai novelis horror era 1970 hingga 1980an.

  1. Laksmi Pamuntjak

Laskmi Pamuntjak merupakan salah satu sastrawan Indonesia yang sukses di kancah internasional. Sudah banyak festival dan diskusi sastra yang melibatkan namanya. Sebut saja Man Booker International Literary Festival, Tower at the End of the World Festival, Winternachten International Literary Festival, dan masih banyak lainnya. Ia juga pernah diundang menjadi pembicara di beberapa universitas tersohor dunia.

Selain koleksi puisi dan buku kuliner, Laksmi juga dikenal lewat karyanya Amba yang telah diterjemahkan dalam bahasa Inggris (The Question of Red), Jerman (Alle Farben Rot), dan Belanda (Amba of De Kleur Van Rood). Novel ini merupakan balutan adaptasi cerita percintaan Mahabharata dan kelamnya “pembersihan komunis” pada 1965. Novel lainnya, Aruna dan Lidahnya, pun dibuat menjadi film baru-baru ini.

  1. Leila S. Chudori

Dari sekian banyaknya penulis tanah air, Leila Salikha Chudori mungkin yang paling cepat “akil balig”. Pasalnya, ia sudah punya tulisan yang dipublikasikan saat berusia 12 tahun. Tulisan tersebut meliputi beberapa cerpen yang diterbitkan majalah anak dan remaja, yakni Si Kuncung, Kawanku, serta Hai. Setelah berpuluh tahun bergelut dalam cerpen dan antologinya, Leila akhirnya menerbitkan novel berjudul Pulang yang mencapai cetakan ketiga dalam kurun tiga bulan. Novel yang mengisahkan empat jurnalis yang dibuang pasca tragedi 1965 ini juga telah diterjemahkan dalam enam bahasa, termasuk Inggris (Home).

Di samping menulis, wanita lulusan Trent University, Kanada tersebut juga sempat membuat naskah serial mini Dunia Tanpa Koma yang dibintangi Dian Sastrowardoyo dan Tora Sudiro di RCTI. Dirinya juga pernah berkolaborasi dengan Riri Riza dan Mira Lesmana dalam pembuatan film pendek Drupadi. Kecintaannya pada film dan Bahasa membuatnya menduduki posisi senior editor untuk kolom khusus di majalah Tempo.

  1. Nirwan Dewanto

Nirwan Dewanto adalah seorang sastrawan sekaligus budayawan. Kegemarannya pada puisi terlihat sejak SMA kala ia menulis untuk majalah Kucung dan Kartini. Lelaki lulusan Institut Teknologi Bandung tersebut pernah masuk dalam dewan juri Penghargaan Khatulistiwa pertama pada 2001. Dirinya kemudian enggan kembali menjadi juri di ajang tersebut lantaran proses penilaian yang dianggapnya tidak profesional. Tujuh tahun setelahnya, ia menjuarai penghargaan tersebut lewat antologi puisinya, Jantung Ratu Lebah.

Nirwan juga dikenal lewat berbagai esai yang menuang pandangannya akan kebudayaan Indonesia. Ia juga pernah menjadi narasumber di Konferensi Budaya Nasional dan menghadiri beberapa program residensi internasional. Ia sempat berperan sebagai Uskup Albertus Soegijapranata dalam film biopik Soegija pada 2012. Alasan Nirwan yang beragama muslim memerankan tokoh tersebut dilandasi ajakan sang sutradara yang melihat kemiripan rupa di antara keduanya.

  1. Norman Erikson Pasaribu

Meski awalnya mengalami kendala membaca sampai akhir kelas 2 SD, Norman berhasil mencatatkan namanya sebagai juara dalam berbagai penghargaan bergengsi tanah air. Di antaranya adalah Cerpen Terbaik Kompas 2013 dan Sayembara Manuskrip Buku Puisi DKJ 2015. Karyanya, Sergius Mencari Bacchus, diterjemahkan ke bahasa Inggris dan menjadi pemenang PEN Translates Award 2018.

Bukannya tanpa kendala, Norman harus berkali-kali mengirim karyanya ke redaktur Kompas sebelum akhirnya diterima di percobaan ke-22nya. Dari situlah lelaki yang menempuh pendidikan di STAN tersebut mulai dilirik. Dirinya bahkan sempat ikut proyek kepenulisan Radio ABC Australia bersama beberapa penulis muda lainnya.

  1. Reda Gaudiamo

Reda Gaudiamo cukup terkenal lewat grup musikalisasi puisinya bersama Alm Ari Malibu. Mereka sering membawakan karya Sapardi Djoko Darmono dalam setiap pentasnya, dengan alasan pembawaan kalimatnya yang sangat pas.

Perjalanan karier Reda tidak pernah jauh dari yang namanya menulis. Ia memulainya saat masih kuliah di Sastra Prancis Universitas Indonesia dengan menerbitkan artikel dan cerpen di beberapa media massa. Setelah lulus pun Reda sempat menjadi pemimpin umum tujuh majalah di Gramedia. Dirinya telah menciptakan beberapa buku, termasuk kumpulan cerpen Tentang Kita dan novel Na Willa yang akan segera dirilis di Inggris Raya.

  1. Seno Gumira Ajidarma

Seno Gumira Ajidarma banyak melahirkan buku yang mengangkat sisi politik Indonesia. Kumpulan cerpen Saksi Mata miliknya sempat menyabet penghargaan Dinny O’Hearn Prize for Literary 1997. Tiga belas cerpen di dalamnya secara implisit menceritakan konflik berdarah yang terjadi di Timor Leste. Doktor Ilmu Sastra Universitas Indonesia tersebut juga meraih Khatulistiwa Literaly Award 2005, Penulis Cerpen Terbaik Kompas 2010 serta Penghargaan Achmad Bakrie dari Freedom Institute yang langsung ditolaknya sebab merasa tidak layak.

Kecakapan Seno serta pilihannya menulis situasi politik dalam medium buku berangkat dari profesinya sebagai jurnalis. Ia menyayangkan keterbatasan jurnalisme dalam mengungkap fakta, terlebih kala dibungkam Orde Baru. Penyuka karya Karl May itu bahkan pernah dibebastugaskan karena membeberkan “insiden Dili” pada 1991. Seno sering menyempatkan diri untuk memotret, yang mana merupakan hobinya selain menulis dan travelling.

  1. Sheila Rooswitha Putri

Sheila Rooswitha Putri membuktikan bahwa karya yang diikutkan ke ajang prestigius seperti London Book Fair tak melulu soal puisi, cerpen, ataupun novel. Berbeda dengan sebelas penulis lainnya, wanita dengan nama panggilan “Lala” ini memanfaatkan komik sebagai media untuk menceritakan persoalan yang berkembang di lingkungan sekitarnya.

Selain menerbitkan komik dalam bentuk fisik, lulusan desain dan komunikasi visual Universitas Trisakti tersebut juga memuat komik seputar kehidupan keluarga kecilnya yang berjudul Sheila’s Playground di Facebook. Corak gambar yang khas membuat dirinya menduduki posisi kedua Lomba Komik Nasional 2013 yang diselenggarakan Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta mewakili Indonesia dalam ajang Frankfurt Book Fair 2015. Tak hanya itu, ia juga pernah terlibat dalam produksi film Indonesia, seperti Arisan! dan Jomblo. (Uli)

%d blogger menyukai ini: