12 Juni 2018 Pertemuan Perdana Pemimpin Korea Utara-AS

FOTO: liputan6.com/indolinear.com
Selasa, 12 Juli 2022

Indolinear.com, Singapura – Sejarah mencatat bahwa empat tahun lalu, tepatnya Selasa 12 Juni 2018, menjadi momentum pertemuan dua pemimpin yang sebelumnya dikenal tak rukun, Donald Trump dan Kim Jong-un. Dalam sebuah acara yang kemudian disebut North Korea–United States Singapore Summit.

Donald Trump yang kala itu berusia 71 tahun, berlatar belakang miliarder, dan dipilih secara demokratis sebagai pemimpin negara besar yang adikuasa bertemu Kim Jong-un, pemimpin muda yang mewarisi kekuasaan dari ayah dan kakeknya, serta menerapkan kediktatoran yang menindas rakyatnya.

Meski tak imbang di atas kertas, di Singapura, Kim Jong-un diperlakukan setara dengan Donald Trump.

Saat bertemu untuk kali pertamanya, keduanya saling mengulurkan tangan. Sinyal-sinyal permusuhan dan kecurigaan masih terlihat, meski samar.

Keduanya saling menahan diri untuk tak tersenyum berlebihan. Donald Trump mengucap beberapa kata, sementara Kim Jong-un mendengarkan.

Kendati demikian tak jelas apakah pemimpin muda Korea Utara itu memahami ucapan lawan bicaranya.

Namun, baik Donald Trump dan Kim Jong-un berdiri tegak dalam sesi foto resmi. Senyuman yang sempat tersungging di bibir mereka lenyap. Ekspresi keduanya serius.

Sikap serius tersebut seakan keduanya menyadari bahwa mereka duduk bersama atas dasar rasa takut bahwa pihak lawan bisa mengirimkan rudal dengan hulu ledak nuklir.

Beberapa kali Kim Jong-un sesumbar akan mengirim rudal ke daratan utama AS. Pulau Guam, teritori Amerika Serikat di Pasifik juga pernah jadi target uji coba misil Pyongyang.

Beberapa saat kemudian, senyuman kembali muncul ketika kedua pemimpin yang dulunya musuh bebuyutan itu saling mengobrol dengan bantuan penerjemah.

Ketika mereka pindah ke ruang pertemuan, Kim terlihat tegang. Ia duduk dengan posisi tubuh condong ke depan.

Kepada Donald Trump, ia mengatakan, kedua pemimpin telah mengatasi banyak rintangan untuk bertemu di Singapura.

“Tak mudah untuk datang ke sini. Saya juga berharap pertemuan ini akan sukses,” kata dia, dilansir dari Liputan6.com (10/07/2022).

Trump kemudian bicara tentang hubungan keduanya yang luar biasa. “Kita akan memiliki hubungan yang luar biasa,” ujar suami Melania Trump itu.

Dan bahwa tak ada yang luar biasa baginya.

Pada saat pasangan itu muncul lagi, sekitar 30 menit kemudian, mereka tampak lebih akrab dan santai, meski bahasa tubuh mereka tidak terlalu hangat.

Prestasi Bagi Kim Jong-un

Donald Trump dan Kim Jong-un kembali berjabat tangan saat memulai makan siang bersama para pejabat kedua negara.

“Kita akan menyelesaikannya bersama,” kata Donald Trump kepada Kim Jong-un yang jauh lebih muda dari usianya. Ia merujuk pada pada kerja sama antara kedua negara.

Pertemuan Donald Trump dan Kim Jong-un menandai perbaikan hubungan dua negara. Di satu sisi, ini adalah prestasi bagi Kim Jong-un — yang tak bisa diraih ayahnya, Kim Jong-il dan sang kakek, Kim Il-sung.

AS tidak mengakui Republik Rakyat Demokratik Korea dan tak menjalin hubungan diplomatik dengan Pyonyang.

Sementara, Dinasti Kim sudah lama menganggap AS sebagai musuh bebuyutan — sebagai musuh bersama dan ancaman yang laten untuk menegakkan legitimasi rezim di mata rakyatnya.

Kata Analis: Saling Mendominasi

Sementara itu, Managing Director Singapore-headquartered Influence Solutions, Karen Leong, mengatakan 60 detik pertama menunjukkan kedua pemimpin berusaha untuk mendominasi pertemuan.

“Jabat tangan mereka terlihat sangat erat,” kata Leong seperti dikutip dari Asia One, Selasa (12/5/2018).

“Trump sepertinya sangat sadar akan hal ini, bahwa dia harus lebih unggul dan terlihat bahwa dia adalah pemimpinnya.”

Leong memaparkan, Trump mendominasi sebagian besar pembicaraan. Sementara Kim Jong-un tampak mendengarkan dengan penuh perhatian, meski sempat menengok ke arah lawan bicaranya tiga kali selama berjalan menuju ruang pertemuan mereka.

Kim juga sempat tertangkap kamera saat menepuk lengan presiden AS, dalam upaya menunjukkan kendali atas pertemuan itu.

Presiden AS, yang dua kali lipat dari usia Kim, kemudian memimpin jalan ke perpustakaan tempat pertemuan tatap muka itu. Lalu menempatkan tangannya di punggung rekan pemimpin Korea Utara.

Namun, Leong mengatakan keduanya terlihat sulit menyembunyikan rasa gugup setelah mereka duduk. Trump terlihat menampilkan senyum yang kaku dan gelisah yang ditunjukkan dengan memainkan jari-jarinya, sementara Kim Jong-un mengekspresikan perasaan serupa dengan bersandar dan menatap lantai.

Menjelang pertemuan, Trump mengatakan dia akan bisa menguasai pertemuan untuk membuat Korea Utara serius untuk berdamai dan melakukan denuklirisasi.

Konferensi Pers dari 5 Jam Pertemuan Bersejarah Korut-AS di Singapura

Usai lima jam bertemu bekas seterunya, Kim Jong-un, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar konferensi pers, untuk menyampaikan pada dunia soal hasil KTT AS-Korea Utara yang digelar Selasa 12 Juni 2018.

Sang miliader nyentrik mengaku menghabiskan ‘jam-jam yang sangat intensif’ bersama Kim Jong-un dan menghasilkan sebuah dokumen komperehensif.

Donald Trump mengatakan, pemimpin muda Korut itu berjanji untuk menghancurkan situs uji coba rudal utamanya.

“Korea Utara akan menghancurkan situs uji coba mesin misil utamanya,” kata Donald Trump di Hotel Capella, Pulau Sentosa, Singapura.

Komitmen tersebut, menurut Trump, tak termasuk dalam dokumen kesepakatan yang ditandatangani kedua pemimpin. “Kami baru menyepakati hal itu setelah dokumen itu ditandatangani,” kata dia.

Donald Trump juga menggarisbawahi, hasil-hasil kesepakatan yang sebelumnya ditandatangani dan tertera dalam dokumen.

“Kim Jong-un menegaskan komitmennya yang tak tergoyahkan untuk melakukan denuklirisasi secara menyeluruh di Semenanjung Korea,” kata dia. “Kim berniat melakukannya.”

Suami Melania Trump tersebut menganggap, hasil pertemuan di Singapura tersebut adalah prestasi pemerintahannya.

“Ini tidak terjadi pada masa lalu,” kata Donald Trump, soal hasil pertemuannya dengan Kim Jong-un. “Pemerintahan (Amerika Serikat) lain tak pernah memulainya dan maka dari itu, mereka tak pernah menyelesaikannya.”

Isi Perjanjian Donald Trump dan Kim Jong-un

Sebelum menggelar konferensi pers, Donald Trump sempat menunjukkan dokumen kesepakatan yang ia tandatangani bersama Kim Jong-un.

“Presiden Trump dan Pemimpin Kim Jong-un melakukan pertukaran pandangan yang komprehensif, mendalam dan tulus terkait isu-isu tentang pembentukan relasi yang baru antara AS dan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) dan pembentukan rezim perdamaian yang abadi dan kuat di Semenanjung Korea,” demikian tertulis dalam perjanjian tersebut.

“Presiden Trump berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan kepada DPRK. Dan, Pemimpin Kim Jong-un menegaskan kembali komitmennya yang kuat dan kukuh melaksanakan denuklirisasi menyeluruh di Semenanjung Korea.”

Berikut 4 poin perjanjian yang ditandatangani Kim Jong-un dan Donald Trump:

  1. AS dan Korea Utara berkomitmen untuk membangun hubungan AS – DPRK yang baru, yang selaras dengan keinginan masyarakat kedua negara demi perdamaian dan kesejahteraan
  2. Kedua negara akan berusaha bersama-sama untuk membangun rezim yang lestari, stabil, dan damai di Semenanjung Korea.
  3. Mengafirmasi kembali Deklarasi Panmunjom 27 April 2018, di mana Korea Utara berkomitmen berupaya menuju denuklirisasi secara menyeluruh di Semenanjung Korea.”
  4. AS dan Korea Utara berkomitmen untuk memberikan pemulihan terhadap tawanan perang yang tersisa, termasuk penyegeraan repatriasi bagi mereka yang telah teridentifikasi. (Uli)