Wali Kota Depok Ajak Wartawan Pantau ATCS Dishub

tribunnewscom/indolinear.com
Rabu, 13 September 2017

Indolinear.com, Depok,- Wali Kota Depok Mohammad Idris Abdul Shomad mengajak wartawan ke ruang kendali CCTV lalu lintas, milik Dishub Depok atau Area Traffic Control System (ACTS) Dishub, guna memantau kondisi jalur SSA. Hal ini dilakukan sebagai respon atas unjuk rasa ratusan warga yang menolak kebijakan sistem satu arah (SSA) di Jalan Dewi Sartika, Jalan Nusantara dan Jalan Arief Rahman Hakim.

Dengan begitu, Idris bersama Kadishub Depok Gandara Budiana, ingin membuktikan bahwa hasil kajian dan evaluasi yang menyatakan SSA cukup efektif mengurai kemacetan adalah benar adanya dan bukan rekayasa atau karangan belaka.

“Jadi bisa disaksikan dan dilihat sendiri dari pantauan di pusat kendali ini, bahwa penerapan SSA cukup baik mengurai kemacetan. Sehingga untuk menentukan dilanjutkannya atau dipermanenkannya SSA atau bahkan dihentikan, akan tergantung kajian dan evaluasi terus menerus. Selain itu Wali Kota harus selalu berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya mulai dari Dishub, Polres dan bahkan akademisi,” kata Idris .

Karenanya kata Idris, sampai saat ini SSA berjalan baik dan cukup relevan menjadi solusi dalam mengatasi kemacetan di Depok.

“Saya ingin semua unsur terkait baik Polres Depok, Kodim 0508 Depok, Dishub dan lainnya duduk satu meja untuk mencari solusi terbaik berkaitan program SSA. Jadi bukan hanya dari Wali Kota Depok saja. Yang terpenting apapun nanti keputusan terkait SSA ini, adalah semata-mata untuk kemaslahatan banyak orang, dan masyarakat luas,” kata Idris.

Sebelumnya Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok, Gandara Budiana menuturkan hasil evaluasi dan kajian pihaknya selama pelaksanaan sistem satu arah (SSA) di Jalan Nusantara, Jalan Dewi Sartika dan Jalan Arief Rahman, sejak 29 Juli lalu, membuktikan bahwa SSA cukup efektif mengurangi kemacetan di ruas jalan tersebut.

“Ada tiga parameter atau ukuran yang kita gunakan untuk menilai dan mengevaluasi SSA ini. Antara lain tingkat kecepatan kendaraan, waktu tempuh, serta panjang antrean kendaraan yang hendak melintas di sepanjang jalur SSA tersebut,” kata Gandara.

ia menerangkan tiga parameter itu menunjukkan semuanya lebih baik sejak SSA diterapkan.

“Pertama, waktu tempuh kendaraan di yang terhubung dengan SSA sudah mengalami peningkatan, sejak SSA diterapkan. Bila sebelumnya 80 sampai 85 menit, saat ini sudah berkurang menjadi 55 hingga 60 menit saja, waktu tempuhnya,” kata Gandara.

Kedua kata dia rata-rata kecepatan kendaraan yang melintas di sepanjang jalur SSA juga mengalami peningkatan. “Bila sebelumnya kecepatan kendaraan hanya 12-14 km/jam, saat ini meningkat menjadi 17 km/jam, di jam sibuk,” kata dia.

Hal ini kata Gandara karena dua lajur yang tadi berlawanan menjadi searah, sehingga kecepatan kendaraan di jam sibuk meningkat, sejak SSA diterapkan.

“Parameter yang ketiga, yaitu panjang antrean kendaraan, berdasarkan data kami, jumlah dan panjang antrean kendaraan mengalami penurunan sejak SSA diterapkan. Saat ini panjang antrean kendaraan di setiap persimpangan jalan yang terhubung dengan jalur SSA umumnya hanya mencapai 500 meter. Padahal sebelumnya bisa lebih dari itu dan bahkan bisa sampai 2 atau 3 km,” katanya.

Antrean kendaraan yang makin pendek katanya tampak di Simpang Ramanda, Simpang Beji, simpang Sengon, simpang Jalan Kartini-Dewi Sartika, dan simpang Jalan Margonda-Siliwangi. “Setelah SSA rata-rata hanya 500 meter saja antrean kendaraannya di jam sibuk. Sebelumnya bisa mencapai lebih dari 500 meter. Bahkan saat ini panjang antrean sudah berangsur-angsur berkurang dari 500 meter,” katanya.

Karenanya kata Gandara, tidak mungkin Pemkot Depok membatalkan begitu saja SSA sesuai desakan dan unjuk rasa ratusan warga. Sebab tambahnya berdasarkan data parameter yang ada, SSA ternyata mampu mengurai kemacetan dan memenuhi kepentingan masyarakat yang lebih luas. (Gie)