Rumah Nyaris Roboh Nenek Di Desa Jayanti Membutuhkan Bantuan

kabar6com/indolinear.com
Jumat, 17 Agustus 2018

Indolinear.com, Kab. Tangerang – Nasib Asmanah, (65) sangat memprihatinkan. Warga Kampung Garahieum RT.18 RW.08, Desa Jayanti, Kecamatan Jayanti, Kabupaten Tangerang itu hampir 20 tahun tinggal di rumah reyot beralaskan tanah.

Bersama anaknya yang mengalami keterbelakangan mental, ia menghuni rumah berukuran 4×4,5 meter itu. Bukan tak ada keinginan untuk memperbaiki rumah tersebut, di usia senja yang hanya berprofesi sebagai buruh serabutan, Asmanah hanya bisa pasrah.

Dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu tampak telah rapuh, bahkan pada salahsatu sisi, lubang besar tampak menganga. Atap rumah pun serupa, tak sedikit genting yang telah pecah, sementara pintu hanya ditutupi bilik bambu, karena pintu telah lama rusak.

Kondisi di dalam rumah pun seperti kapal pecah, bahkan rumah tersebut tidak memiliki kamar mandi. Asmanah setiap hari harus menumpang mandi dan mencuci di sumur tetangga, sementara untuk buang air besar, ia harus pergi ke kebun bambu di kampung setempat.

Sekitar 20 tahun Asmanah tabah dengan nasib hidupnya setelah Sarwita, suaminya, meninggal dunia karena sakit. Asmanah memiliki tiga orang anak, dua telah berumah tangga, namun memilih tinggal jauh dari kampung tersebut.

Bahkan, kedua anaknya pun seolah tak peduli dengan kondisi ibunya yang hidup serba kekurangan dan harus merawat seorang anak yang mengalami keterbelakangan mental.

“Pengen sih rumah ini dibedah, tapi mau pakai apa, buat makan aja susah,” ungkapnya lirih saat awak media berkunjung ke kediamannya, dilansir dari Kabar6.com (16/08/2018).

Dituturkannya, beberapa kali ada yang datang untuk menawarkan bantuan. Mereka memotret rumah dan mewawancarainya, namun hingga saat ini belum ada realisasi. Padahal mereka menawarkan bantuan untuk membedah rumah tersebut.

“Saya cuma bisa pasrah, mau gimana lagi, walau kalau hujan ya kehujanan. Kalau malam kedinginan dan dikerubuti nyamuk,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhannya, ia pun mengandalkan kebaikan hati tetangganya. Di usia senjanya, ia tak berdiam diri, mengais rejeki sesuai kemampuannya.

“Suka ada yang minta tolong untuk nandur dan ngoyos (menanam padi dan menyiangi padi), bantu-bantu tetangga dan bikin pagar,” jelas Asmanah.

Kerja serabutan itu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Kadang, ia dibantu oleh tetangga dan para dermawan di kampungnya.

“Alhamdulilah, suka dibantu tetangga, terutama pak RT dan orang desa. Suka rutin ngasih beras dan sembako,” imbuhnya.

Aisyah (45) tetangga Asmanah menceritakan keseharian janda miskin tersebut. Menurutnya, sejak suaminya meninggal dunia, ia memilih tidak menikah lagi. Praktis, Asmanah harus menjadi tulang punggung keluarga menghidupi tiga orang anaknya.

Kata Aisyah, karena kemampuan fisik yang mulai melemah, Asmanah saat ini hidup dari bantuan para tetangganya, sementara sehari-hari ia tak lagi bekerja.

“Mau memperbaiki gubuk tapi tidak ada biaya, kerja juga tidak. Sebetulnya kasihan juga perlu dibantu,” ucapnya lirih dengan air mata berderai.

Aisyah juga berharap ada dermawan ataupun pihak pemerintah yang memberikan perhatian kepada Asmanah. Karena, dirinya pun mengaku hanya bisa merasa prihatin, karena terkendala kemampuan ekonomi kalau harus membedah rumah tersebut.

“Kalau memang ada program pemerintah semestinya dapat bantuan. Namun sampai sekarang belum ada bantuan dari mana pun juga,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Camat Jayanti Chaidir membenarkan kondisi Asmanah.Ia mengaku sedang mengajukan Asmanah mendapatkan bantuan melalui program bedah rumah.

“Sedang kita upayakan, supaya rumahnya bisa dibedah, dan menjadi rumah yang layak huni,” singkatnya saat dikonfirmasi melalui telepon seluler. (Uli)

%d blogger menyukai ini: