Pinggir Jalan Jadi Tempat Pria Mesir ini Buka Perpustakaan

kompascom/indolinear.com
Kamis, 4 Januari 2018

Indolinear.com, Alexandria – Di usainya yang sudah 50 tahun, Ghareeb al-Sheikh masih ingin dapat berguna bagi orang lain.

Pria Mesir yang sehari-hari mencari nafkah dengan membuka kios dan menjadi agen penjualan surat kabar ini lantas berpikir untuk membuka sebuah perpustakaan umum.

Ghareeb yang gemar membaca memang memiliki banyak koleksi buku. Dan setelah membaca lebih dari setengah koleksi bukunya, dia merasa bahwa orang lain harus bisa mendapatkan manfaat dari buku-buku koleksinya.

Dari situlah Ghareeb kemudian terpikir untuk membuka sebuah perpustakaan gratis.

Dia pun mulai memajang buku-buku koleksinya di depan kios kecil miliknya yang ada di Dekheila, kota Alexandria.

Ghareeb ingin agar orang-orang mulai kembali menggemari membaca buku, terutama untuk kaum muda.

Dikutip dari Kompas.com, Kamis (04/01/18), Ghareeb memulai perpustakaan jalanannya dengan sekitar 390 judul buku.

Seiring waktu dan makin banyak orang mengetahui perpustakaannya, beberapa ada yang menyumbangkan buku milik mereka.

Saat ini koleksinya sudah bertambah hingga sekitar 450 judul buku. Bahkan saat diwawancara, dia mengaku sekitar 80 buku sedang dipinjam.

Dia mengatakan setiap orang bebas meminjam buku di perpustakaan miliknya tanpa dipungut biaya.

Untuk mencatat para peminjam, Ghareeb hanya menggunakan buku besar untuk menulis nama, nomor telepon, judul buku yang dipinjam, dan lama waktu peminjaman.

Ghareeb mengatakan, selama ini warga yang meminjam buku dari perpustakaannya sangat berkomitmen dan bersedia mengembalikan buku pada waktunya.

“Kalaupun ada warga yang terlambat mengembalikan, dia akan menelpon saya dan meminta tambahan waktu agar dia bisa menyelesaikan membaca buku itu,” kata Ghareeb.

Para pelanggan perpustakaan miliknya pun beragam. Ada yang merupakan seorang profesional, intelektual, hingga pekerja di pabrik di sekitar kawasan itu.

Buku-buku yang paling sering dipinjam adalah buku sastra, seperti kumpulan puisi karya Bairam al-Tunisi dan Fouad Haddad. Setelahnya, buku tentang peninggalan budaya dan politik.

Namun yang disayangkannya, mereka yang kerap meminjam di perpustakaan milik Ghareeb adalah warga yang berusia 20 hingga 30-an.

Dengan kata lain, harapannya untuk menggerakkan para kaum muda agar mau membaca buku belum tercapai.

“Mereka yang masih muda tidak ingin repot dengan meminjam buku. Mereka lebih suka mencari informasi yang mereka butuhkan dari situs-situs komunikasi sosial,” kata dia. (Gie)

%d blogger menyukai ini: