Pengamen Bersertfikasi Minta IzinNgamen di Stasiun KA

tribunnewscom/indolinear.com
Selasa, 5 September 2017

Indolinear.com, Depok – Pendiri Institut Musik Jalanan (IMJ), Andi Malewa yakni sebuah komunitas pengamen jalanan di Depok, berharap PT KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mau mendukung program Support Performer Card (Supercard) Jabodetabek, yang mereka gagas dan tengah dijalankan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bersama IMJ.

Program ini dengan menseleksi, membina dan mensertifikasi musisi jalanan yang dianggap layak dengan memberikan kartu bebas ngamen atau Supercard, dan menempatkan mereka mengamen di tempat yang layak dan bukan lagi berkeliaran di jalanan.

Dukungan yang diharapkan pihaknya dari PT KAI dan PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) kata Andi adalah dengan memberikan sedikit space di beberapa Stasiun Kereta Api (KA) tertentu di Jabodetabek, untuk para musisi jalanan bersertifikasi dan penerima Supercard binaan mereka mengamen di sana.

Audisi kartu bebas ngamen atau supercard Jabodetabek di IMJ, pekan lalu untuk langkah sertifikasi dan pembinaan pengamen.

Audisi kartu bebas ngamen atau supercard Jabodetabek di IMJ, pekan lalu untuk langkah sertifikasi dan pembinaan pengamen.

“Pengamen yang bermain musik di sana, sebelumnya telah kami audisi baik secara skill, attitude dan performancenya, sehingga cukup berkualitas dan menghibur. Kami berharap pengamen Supercard binaan kami ini, bisa menggelar busking atau pertunjukan musik di area Stasiun KA se-Jabodetabek, yang memang areanya memungkinkan,” kata Andi.

Andi menyadari tidak semua stasiun KA memungkinkan memberi space bagi pengamennya.

Mengingat stasiun-stasiun yang dilintasi commuterline juga punya keterbatasan area tersendiri.

“Ada type stasiun yang sempit dari jalur keluar, pintu tap kartu dan langsung ke jalan raya. Kami sadar di stasiun KA seperti ini tentu kami tidak bisa menggelar busking di sana” katanya.

Jika commuterline atau PT KAI mengizinkan, tambah Andi, pihaknaya tentu akan melakukan pemetaan terlebih dahulu.

“Agar kami bisa tahu stasiun KA mana saja yang memungkinkan untuk menggelar busking atau mengamen,” kata Andi.

Menurut Andi, pihaknya hanya meminta sedikit space untuk minimal 3 orang grup mengamen. Yakni gitaris, vocal dan alat musik pukul cajon.

“Tanpa perlu soundsystem karena tentu akan mengganggu informasi kereta dari pengeras suara stasiun,” katanya.

Selain itu kata Andi, pengamennya tidak meminta bayaran dari PT KAI atau PT KCJ, namun berharap murni dari pemberian ikhlas pengguna kereta api.

“Pengamen kami akan bekerja profesional. Kami bisa busking sesuai jam operasional stasiun KA. Sebagai pekerja seni di stasiun, jam bisa kita atur,” katanya.

Andi mengaku sangat ingin pihak PT KAI dan Commuterline bisa bekerja sama untuk melakukan pemberdayaan masyarakat khususnya pengamen. Sehingga mereka menjadi lebih baik dan tidak lagi mengamen di jalanan.

“Tentu ini sangat berdampak positif bagi nama PT KAI dan Commuterline sendiri di mata masyarakat,” katanya. (Gie)

%d blogger menyukai ini: