Olahraga Tradisional Untuk Menangkal Pengaruh Buruk Gadget

kompascom/indolinear.com
Rabu, 11 Juli 2018

Indolinear.com, Jambi – Antusiasme warga Jambi mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa, patut diacungi jempol dalam mensukseskan Festival Olahraga Tradisional Tingkat Nasional 2018 yang berlangsung di Tanah Pilih Pesako Betuah.  Ribuan orang memadati lapangan Kantor Gubernur Jambi, yakni lokasi pembukaan pada Sabtu (7/7/2018).

Seperti halnya Sumiati, orang tua dari Kasih, siswa SD 26 Kota Jambi yang jauh-jauh datang dari Kecamatan Danau Sipin untuk mensupport anaknya ikut senam massal dalam acara tersebut. Senam massal memang hanya sebagai menu penutup dari acara pembukaan Festival Olahraga Tradisional.

Namun menurut Sumiati, kegiatan ini sangat positif agar anak-anak gemar berolahraga. Kalau senam massal dikatakannya tiap minggu pagi rutin digelar di Lapangan Kantor Gubernur Jambi. Tapi olahraga tradisional boleh dibilang sama sekali tak pernah terlihat.

“Anak-anak sekarang lebih suka main handphone daripada menggerakan badannya berolahraga. Beda dengan zaman kami yang setiap hari bermain sambil olahraga tradisional seperti hadang. Dengan adanya festival ini mudah-mudahan olahraga tradisional kembali tumbuh dan berkembang,” ujarnya, dilansir dari Kompas.com (10/07/2018).

Festival Olahraga Tradisional ini merupakan gawean Kemenpora dan bukan hanya untuk menyehatkan masyarakat tapi juga mengangkat kembali warisan budaya bangsa yang boleh dibilang nyaris tak tersentuh oleh generasi zaman now.

Program yang dikomandoi oleh Raden Isnanta, selaku Deputi III Pembudayaan Olahraga Kemenpora ini terbilang sukses, pasalnya, sebanyak 18 provinsi dan dua kabupaten Jambi dengan 250 atletnya ikut berpartisipasi.

Mereka akan menampilkan 19 jenis permainan olahraga tradisional. Tuan rumah Jambi misalnya menampilkan permainan suruk-surukan. Permainan ini menampilkan ketangkasan anak-anak mencari sesuatu yang tersembunyi.

Daerah lainnya seperti Kalimantan Selatan menyajikan jenis permainan Kacapak Kacabau. Permainan ketangkasan yang mengandung hiburan ini biasanya dimainkan di atas sungai.

Namun, bisa diaplikasi di darat dengan mendesain sebuah kolam persegi empat.

“Sebetulnya banyak daerah yang ingin memamerkan permainan olahraga tradisionalnya. Tapi karena alokasi anggaran mereka terbatas, jadi urung tampil,” kata Witarsa, Kepala sub Bidang Pengelolaan Olahraga Tradisional Kemenpora.

“Disinilah para daerah mempromosikan jenis permainan olahraga tradisionalnya. Bila dari permainan yang ditampilkan  ini ada kesamaan satu daerah dengan daerah lainnya maka akan dibakukan,” jelasnya.

Sementara itu, Raden Isnanta yang membuka event ini berharap Festival Olahraga Tradisional ini benar-benar dapat dinikmati oleh semua lapisan masyarakat, bukan hanya di Jambi tapi seluruh pelosok negeri.

Menurutnya, olahraga tradisional mungkin sesuatu yang kurang populer. Karena generasi anak sekarang sudah terjebak oleh budaya asing. Dia pun mengajak masyarakat untuk sama-sama bergerak dan bangkitkan olahraga warisan leluhur ini dalam program Ayo Olahraga.

“Pembangunan olahraga bukan hanya yang bertujuan untuk prestasi, tapi semua jenis olahraga rekreasi juga patut diviralkan virus positifnya,” tandas Isnanta yang disambut dengan 100 tembakan kembang api ke udara,” pungkasnya.

Sementara itu Kadispora Provinsi Jambi, Wahyudin dalam laporannya mengatakan Jambi siap menggelar Festival Olahraga Tradisional dan Liga Santri regional dengan baik dan sepenuh hati.

“Sebagai upaya pelestarian budaya tradisional, Jambi sangat peduli mengembangkannya ke masyarakat. Kami  berharap jenis olahraga tradisional ini dapat disejajarkan dengan olahraga prestasi,” ujarnya.

Sekretariat Daerah (Sekda) Jambi M Dianto yang mewakili Gubernur Jambi, Fachrori Umar, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Menpora Imam Nahrawi yang telah memberikan kepercayaan kepada Jambi menghelat Festival Olahraraga Tradisionl dan Liga Santri regional Kota Jambi.

Disebutkan Dianto, Liga Santri yang digelar pada 8-14 Juli diikuti oleh 31 pondok pesantren dari 11 kabupaten kota Jambi.

“Kita patut menjaga kegiatan ini karena olahraga tradisional merupakan kekayaan bangsa yang tersebar ke seluruh Indonesia. Pun memiliki nilai luhur dan sejarah yang panjang dalam kehidupan bermasyarakat,” imbuh Dianto (Uli)

%d blogger menyukai ini: