Kabupaten Cirebon Temukan Solusi Penggaraman Yaitu Umah Asin

rmolco/indolinear.com
Senin, 4 September 2017

Indolinear.com, Cirebon – Sejak bulan Juli lalu sebanyak 25 Pelaku pengolahan garam di Cirebon terancam gulung tikar karena terus mengalami kerugian yang disebabkan oleh faktor cuaca.

“Saat ini faktor cuaca sangat menentukan produksi garam di kabupaten Cirebon, sayangnya kadang cuaca tidak berpihak pada petani sehingga merugikan. Meskipun saat ini cuacanya sudah mendukung dan produksi jalan, tapi tetap saja kan kita ingin panen terus di cuaca apapun juga,” kata bakal calon bupati Cirebon, Kalinga.

Menurut Kalinga, tahun ini faktor cuaca yang tidak mendukung menyebabkan petani mengalami gagal panen sekitar 3 ribu hektar tambak pesisir di bagian utara belum menghasilkan garam sampai bulan Juli.

Hujan yang masih mengguyur Kabupaten Cirebon membuat tambak garam di beberapa daerah seperti di Desa pengarengan, pangenan dan rawa urip, Kecamatan Pangenan dan daerah Mundu terendam air laut. Kerugian ini mengakibatkan petani tidak bisa memenuhi kebutuhan garam dalam negeri, sehingga potensi impor menjadi ancaman.

“Umah Asin menurut saya solusi terbaik untuk melawan segala cuaca, hujan atau tidak petani garam harus bisa panen dong. Pemerintah harus bisa mensosialisasikan serta mendorong penggunaan Umah Asin ini,” imbuh Kalinga.

Kalinga menjelaskan, ‘Umah Asin’ adalah model rumah plastik buatan yang fungsinya menahan air hujan yang dapat merusak tambak garam petani. Adapun konsep “Umah Asin” ini diadaptasi dari Rumah Garam Prisma yang dikembangkan oleh petani garam di Kabupaten Lamongan.

Konsep tersebut terbukti mampu menaikkan produksi garam hingga 400 ton per hektar dalam satu tahun, sebab adanya Rumah Garam Prisma mereka bisa mengatur hasil panen sendiri tanpa khawatir cuaca.

“Umah Asin ini merupakan pendekatan teknologi tepat guna secara sederhana dan bisa dibangun sendiri karena cukup mudah dan harganya terjangkau, sangat cocok buat petani garam skala kecil di Kabupaten Cirebon, lebih bagus lagi jika pemerintah mensubsidi karena biayanya juga tidak terlalu mahal. Kalau ini sukses, saya yakin produksi garam Cirebon akan terus meningkat dan lebih berkualitas,” kata Kalinga.

Mantan Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Cirebon tersebut menuturkan biaya pembuatan “Umah Asin” ini tidak terlalu mahal, yaitu sekitar 4,5 juta. Modal tersebut dipastikan akan kembali dengan jumlah yang berlipat seperti yang terjadi di Kabupaten Lamongan. (Gie)