Disperdagin Kabupaten Bogor Waspadai Penjualan Beras Oplosan

tribunnewscom/indolinear.com
Sabtu, 13 Januari 2018

Indolinear.com, Cibinong – Dinas Pedagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Kabupaten Bogor mulai mewaspadai penjualan beras oplosan kepada masyarakat.

Kekhawatiran ini muncul setelah harga beras premium mulai merangkak naik di pasaran.

Kasi Pengadaan dan Penyaluran pada Disperdagin Kabupaten Bogor, Lavi mengatakan saat ini pihaknya masih memantau kondisi beras yang ada dipasaran pasca terjadinya kenaikan harga berasa premium.

Tak hanya itu, kata dia, kenaikan harga beras ini seringkali dimanfaatkan oleh pedagang yang tidak bertanggungjawab untuk mengoplos beras yang dijual ke masyarakat.

“Selama ini memang belum pernah ditemukan ada beras oplosan, tapi memang harus diantisipasi. jika ditemukan tentu akan segera kami tindak,” ujarnya.

Lavi menjelaskan, beras medium merupakan jenis beras yang memiliki spesifikasi derajat sosoh minimal 95 Persen, kadar air maksimal 14 Persen dan butir patah maksimal 25 persen.

“Beras premium butir patahannya maksimal 25 persen, jika butir patah beras Medium melebihi 28 persen dan beras Premium lebih lebih dari 20 persen dapat di pastikan itu beras oplosan,” kata dia.

Sebab, kata dia, jika pengoplosan beras melewati ambang batas yang sudah ditentukan sudah melanggar.

“Kami bersama bulog akan segera melakukan operasi pasar agar harga kembali stabil, karena memang saat ini harga beras dipasaran sudah melewati harga eceran tertinggi,” ucapnya.

Ia melanjutkan, saat ini untuk wilayah Jawa, Lampung dan Sumatra Selatan harga eceran tertinggi beras medium Rp 9.450 perkilogram dan beras premium Rp 12.800 perkilogram.

“Harga tertinggi di wilayah Maluku dan Papua yaitu beras medium RP 10.250 perkilogram dan beras Premium Rp 13.600 perkilogram,” tandasnya. (Gie)

%d blogger menyukai ini: