BPPT Ingatkan Wilayah Setu Kota Tangsel Rawan Tanah Longsor

rapat koordinasi BPPT dan BPBD Tangsel serta stakeholder/eksklusif Diskominfo Tangsel for indolinear.com
Senin, 19 Maret 2018

Indolinear.com, Tangsel – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengingatkan bahwa wilayah Kecamatan Setu, Kota Tangsel rawan tanah longsor. Pemerintah Kota Tangsel diharapkan untuk menempuh langkah preventif mencegah timbulnya korban fenomena alam dimaksud.

Hal tersebut diungkap peneliti BPPT dalam pertemuan yang digelar oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangsel. Hasil rekomendasi itu sendiri berdasar penelitian di sekitar lokasi rawan longsor dari kurun waktu 2012 hingga 2014 dan dikaitkan dengan pertumbuhan bangunan hunian dan warga sekitar terus mengalami peningkatan.

“Topografi kemiringan tanah sangat curam. Lebih dari 50 derajat. Sehingga sangat rawan terjadinya longsor susulan,” ungkap Kepala BagianProgram dan Annggaran Pusat Teknologi Reduksi Resiko Bencana BPPT, Nur Hidayat di kantor Kelurahan Muncul, Kecamatan Setu.

Menurutnya, tanah longsor dapat diakibatkan dari beban bangunan dan penduduk terhadap tekanan permukaan tanah. Pihaknya pernah mengusulkan kepada Dinas Pekerjaan Umum setempat untuk melakukan kajian secara mendalam terkait kondisi permukaan bawah tanah di kedua wilayah tersebut.

Hidayat menyebutkan, dari hasil kajian yang telah dilakukan di Kampung Koceak, jarak antara kemiringan tanah yang di atasnya terdapat puluhan bangunan dengan permukaan jalan di bawahnya sangatlah dekat. Lapisan soil yang ada di bawah tanah dapat mempercepat terjadinya longsor.

“Ya apalagi pada musim penghujan seperti sekarang ini. Air akan lebih cepat meresap ke celah-celah bangunan, itu akan mempercepat terjadinya proses longsor,” paparnya.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Selatan, Chaerudin menyatakan, rekomendasi dari BPPT ini selanjutnya akan segera disampaikan ke musyawarah pimpinan daerah. Faktor gerakan tanah dan banjir bandang di Kampung Sengkol terindikasi akibat beberapa penyebab.

“Gerakan tanah diperkirakan karena guyuran curah hujan yang tinggi dengan durasi yang cukup lama,” jelasnya. Chaerudin tambahkan, hujan mengguyur pada saat dan sebelum kejadian sehingga mengakibatkan lima unit rumah rusak parah. Puluhan rumah lainnya yang berada persis di bawah tebing pun terancam diterjang longsor. Kemiringan lereng sangat curam, mencapai 35,5 – 55 derajat.

“Terlihat ada sifat fisik tanah pelapukan yang kurang padu (tidak kompak). Serta tanah pelapukan yang tebal lebih dari 2 meter. Rapuh dan sarang, sehingga mudah longsor,” terang Chaerudin.(rls/red)

%d blogger menyukai ini: